Disiplin VS Hukuman

“Hukuman!” Dibayangkan saja sudah menyeramkan, seolah-olah hukuman itu identik dengan penjara, dipukuli, dikucilkan, dipermalukan, ataupun direndahkan.
Bagi yang terbiasa memberi ‘hukuman’ kepada anaknya akan terasa tidak begitu penting dari sebuah nama tindakan yg diambilnya. Di negara-negara maju, tindakan ‘hukuman’ baik berbentuk fisik maupun emosional berurusan langsung dengan pemerintah dan dinas sosial negara. Akan tetapi saya percaya jika anda sudah mau membaca tulisan saya kali ini, anda adalah orang yang bijaksana, yang mau berubah demi kebaikan anda, anak-anak anda, bahkan keluarga anda. Maka dari itu saya mengajak semua orang tua, guru, carers, semua orang yang terlibat dalam usaha mendidik dan membesarkan anak, untuk mengubah pola pikir kita. Konsekuensi sebuah tindakan yang tak diharapkan tidaklah harus berupa sebuah ‘hukuman’. Jauhkan kiranya kata-kata itu dari hati dan pikiran kita, apalagi kita berbicara soal anak-anak kita sendiri, anak didik, anak asuh, anak bangsa.

Mulailah tanamkan pada pikiran kita bahwa: ‘seorang anak yang berperilaku tidak sesuai dengan harapan kita sebenarnya membutuhkan KEDISIPLINAN’. Saya percaya anda semua setuju dengan saya dalam hal ini. Kenapa beresiko memberi hukuman kalau bisa disiplin, kan!?!

Pada kesempatan yang akan datang, saya akan berusaha menuliskan secara singkat beberapa tindakan disiplin yang mudah dilakukan namun jitu pada hasilnya, jauh lebih jitu dari pada memberikan hukuman. Percayalah Papa dan Mama, Ibu&Bapak Guru, Nanny, dan carers.

Untuk kesempatan kali ini, saya akan bagikan sedikit beberapa hal yang efektif membantu persiapan kita mendisiplin anak. Yaitu:
1. Pastikan jadual rutinitas stabil, seimbang (belajar, bermain sendiri, bermain bersama, berdoa, aktifitas di luar rumah, aktifitas di dalam). Anak mencontoh kedisiplinan orang tua lho!
2. Buatlah daftar perilaku yang diharapkan. Komunikasikan hal tersebut dengan anak anda agar dia mengerti jelas apa harapan anda. Pakailah bantuan gambar agar mudah diingat dan di’baca’. Daftar Perilaku ini bisa diubah, ditambah atau dikurangi sesuai situasi dan tingkat kedisiplinan anak anda.
3. Buatlah daftar perilaku yang tidak diharapkan. Ringkaslah daftar itu menjadi -/+ 3 sampai 5 kategori besar, maksudnya agar anak tidak menjadi bingung dan kebanyakan aturan yang membuatnya frustrasi. Komunikasikan dengan singkat, jelas dan relax kepada anak.
4. Kumpulkan semua mainan kesukaan (10-20 items) dalam satu kontainer sedang. Hiasi kontainer tersebut agar anak merasa menjadi bagian penting dalam kepemilikan barang-barang tersebut. Buatlah persetujuan bahwa setiap barang mainan yang berasal dari kontainer tersebut harus kembali saat selesai bermain. Daftarkan persetujuan ini di Daftar Perilaku yang diharapkan seperti yang dijelaskan di poin ke-2.
5. Buatlah persetujuan konsekuensi / sebab-akibat:
a. Jika perilaku yang diharapkan dilakukan, maka anda bisa membuat strategi ‘penghargaan’ yang akan memotivasi anak untuk melakukan tindakan yang diharapkan tersebut. (Saya tidak akan menjelaskan hal ini, karena saya bukan pendukung sejati ‘Reward System’, akan tetapi anda bisa mencarinya di internet dan konsultasikan dengan therapist, sekolah, atau psikolog kenalan anda.
b. Jika perilaku yang TIDAK diharapkan dilanggar, maka haruslah diambil tindakan disiplin. Hal disiplin inilah yang akan saya jelaskan lebih detil dikesempatan selanjutnya.

20121008-150650.jpg